Now reading
Terorisme Musuh Bersama, Mari Lawan!

Terorisme Musuh Bersama, Mari Lawan!

TERORISME selalu menghentak, menggugat nurani, akal sehat, dan kemanusiaan. Bagaimana Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menunaikan tugas buat memerangi kekejian itu? Media Indonesia berbincang dengan mewawancarai Kepala BNPT Suhardi Alius di kantornya.

Bagaimana Anda melihat gambar­an terorisme saat ini mengingat dua peristiwa pengeboman terakhir, di Sarinah dan Kampung Melayu, menyerang di lokasi yang tak identik dengan warga asing?

Gerakan ini memang untuk menyatakan mereka masih ada dan setelah kita telusuri dengan Densus 88, ternyata ini semua satu jaringan ada komunikasi off­line dan online.

Artinya seperti ini, online-nya itu untuk melakukan amaliah dan offline-nya itu terstruktur. Ini dari satu kelompok, contohnya seperti Cicendo dan bom Kampung Melayu juga masih satu kelompok dan mereka ingin menunjukkan eksistensi. Perintahnya satu, sama-sama dari Suriah. Jadi ini harus kita tuntaskan, tapi kendalanya kita belum memiliki hukum yang bisa menjangkau hal-hal yang terkait dengan persiapan secara preventif.

Sekarang ini, sedang digodok melalui revisi UU Antiterorisme dan mudahan-mudahan mendapatkan produk UU yang bisa melakukan antisipasi terhadap rencana pengeboman dan sebagainya. Kemudian kenapa sekarang mereka melakukannya dengan bom panci? Ini merupakan fenomena juga karena bahan-bahannya juga sederhana dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Berarti target pengeboman sudah mulai bergeser?

Jadi sejarahnya kan berbeda, dulu namanya Al-Qaeda itu musuhnya Amerika Serikat dan sekutu mereka, tapi kalau IS sekarang ini musuhnya siapa pun yang bertentangan dengan ideologi mereka.

Sasaran utama mereka polisi karena polisi yang memerangi hal itu. Targetnya adalah polisi yang di lapangan yang notabene adalah soft target. Teroris menganggap polisi sebagai pihak yang memerangi mereka.

Bagaimana pergerakan kelompok terorisme saat ini, apakah kekuatan mereka semakin mengecil atau senga­ja bersembunyi untuk tiba-tiba melakukan serangan?

Mereka jumlahnya tidak besar, tetapi tersebar, misalnya di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Memang tidak di semua provinsi, tapi ada yang aktif di daerah-daerah itu.

Berapa banyak sebenarnya aksi te­ror yang digagalkan mengingat masya­ra­kat selama ini hanya tahu aksi-aksi kecolongan yang berhasil meledak?

Untuk operasional semacam itu kita di BNPT lebih kepada deradikalisasi dan kemudian mengoordinasikan dengan kementerian-kementarian terkait untuk pencegahan. Untuk tindakan, kita masih mengandalkan Densus 88 karena kita tidak punya landasan hukum untuk penindakan.

Banyak sekali sebenarnya yang sudah diantisipasi, misalnya di Purwakarta, Banten, sebetulnya itu juga besar, cuma masyarakat tidak melihat deteksi kita.

Belum semuanya mampu kita deteksi. Kita bisa mendeteksi tetapi tidak bisa menentukan kapan aksi itu mereka lakukan. Kita sekarang belum ada perangkat yang mengarah ke sana.

Contoh misalnya ada I’dad atau persiapan berjihad, itu kita cuma bisa diam karena tidak ada perangkat yang memungkinkan menjangkau. Ini salah satu butir yang akan dimasukkan ke revisi UU Tindak Pidana Pemberantasan Terorisme.

UU yang ada saat ini kan dibuat dalam rangka menuntaskan bom Bali dan belum berpikir antisipatif serta perkembangan teknologi yang luar biasa saat ini. Dulu, baiat kan dilakukan tatap muka, sekarang bisa dilakukan online.

Besaran ancaman terkait dengan terorisme saat ini seperti apa mengingat IS sudah sampai di Filipina?

Ini fenomena global, tidak bisa kita kerjakan sendiri, harus bertukar informasi. Contohnya terdesaknya IIS di Suriah, maka ada perintah melakukan amaliah di daerah masing-masing atau teritorial tertentu. Untuk Asia Tenggara, dipusatkan di Filipina dan sekarang sudah mulai terlihat aktif.

Dulu sebenarnya mau dicoba di Poso, tapi karena Polri dan TNI-nya kuat, tidak bisa. Akhirnya di Filipina Selatan yang kebetulan di sana ada gerakan yang berlawanan dengan pemerintah.

Ini menjadi magnet untuk orang-orang yang radikal karena mereka konsepnya solidaritas. Orang Indonesia yang berpikiran radikal juga ada yang tertarik ke sana.

Bagaimana pola rekrutnya?

Cara offline dan online. Untuk online ini tidak bisa dibendung, apa pun bisa kita buka dengan gadget, termasuk paham radikal, pornografi, narkoba. Online sangat dominan saat ini.

Offline menjadi pelengkap. Online-nya untuk melakukan perintah, sedangkan offline untuk persiapan.

Sentimen yang ingin mereka sebarkan?

Semua yang bertentangan dengan dia, menjadi musuh. Kalau kita berpikir secara jernih dan realistis, mana ada ajaran agama yang menghalalkan hal-hal semacam itu?

Makanya BNPT melibatkan ahli agama. Kalau mereka menggunakan dalil-dalil agama, yang bisa meluruskan, ya, ulama-ulama juga. Makanya BNPT merangkul Muhammadiyah, NU, MUI. Mereka sangat masif di online. Kalau kita tidak bantah, akan dianggap benar.

Kalau kita terlalu lama membiarkan hal-hal tersebut menyebar, akan dianggap benar. Sama halnya seperti hoax. Penyakit masyarakat ini karena kebiasaan budaya sharing, tapi tidak disaring, padahal konten yang dikirim belum tentu benar, mengandung unsur kebohongan, radikalisme. Ini berbahaya serta harus diingatkan.

Apakah ini juga bisa dikaitkan seba­gai bentuk kekecewaan terhadap pemerintah?

Akar masalahnya banyak sekali, makanya BNPT pendekatannya bukan hard approach, tapi juga soft. Kita lihat dan identifikasi masalah di hulu. Di hulu sendiri banyak variabelnya, ada kemiskinan, ketidakadilan, pendidikan, pemahaman agama yang salah. Ini banyak dan mulai menyebar. Dunia pendidikan sudah mulai terpapar oleh paham-peham semacam itu. Kalau kita tidak cepat melangkah untuk mereduksi itu, berbahaya, makanya sekarang keluar kembali prog­ram pemerintah menyalakan kembali nasionalisme. Pancasila dimasukkan kembali ke kurikulum pendidikan karena generasi kita bisa hilang.

Sejak masa reformasi kan hilang semua hal-hal semacam itu, nasionalisme, Pancasila, padahal itu akar dari masalah kebangsaan. Mudah-mudahan ini kita perbaiki dalam 5-10 tahun ke depan.

Apakah sosok teroris itu sudah berubah, semula miskin dan bodoh menjadi berpendidikan?

Ini sudah bergeser, kemarin 75 orang Turki ynag dideportasi, salah satunya sekolah di Australia. Secara ekonomi dan intelektual kuat, ideologi yang membuat dia berubah.

Satu hal yang harus kita pahami, orang menjadi radikal bukan dalam waktu sehari, dua hari, butuh waktu panjang. Jadi harus secara konsisten dan komprehensif untuk bisa mereduksi mereka. Konteks ini yang harus kita pahami betul.

Pemetaan terhadap kasus terorisme yang sudah terjadi maupun ke depannya seperti apa di tingkat nasional maupun global?

Petanya itu jelas, sentralnya ada di Suriah, tapi pecahan-pecahannya bisa negara masing-masing dan Asia Tenggara yang paling dekat, secara geografis, khususnya di Filipina Selatan.

Refleksi terhadap upaya yang sudah dilakukan pemerintah serta agenda ke depan seperti apa?

Kami punya dua konsep besar, menuntaskan masalah terorime itu bukan hanya BNPT, melainkan juga melibatkan semua stakeholder, baik itu institusi pemerintah plus masyarakat itu sendiri, termasuk ormas-ormas.

Konsep pertama, deradikalisasi, jumlahnya sekitar 1.200 yang masih di LP, yang sudah dibebaskan sekitar 500-600, sisanya masih dalam proses.
Meskipun sudah bebas, belum ada jaminan mereka sudah tidak radikal, tetap harus ada pembinaan. Katakan ada 1.000 orang radikal yang teridentifikasi, kemungkinan yang terpapar lebih luas, bisa menyebar ke keluarga mereka. Ja­ngan lupa, kalau anak-anak teroris atau mantan teroris itu banyak jumlahnya dan berpotensi menjadi teroris baru karena merasa termarginalkan. Kalau tidak ada integrasi sosial, berbahaya lagi, itu yang BNPT kerjakan sekarang.

Yang kedua kontraradikalisasi, itu untuk orang-orang yang belum terpapar radikalisme dan jumlahnya besar. Kalau kita identifikasi, siapa yang menjadi sasaran brain washing? Orang-orang yang mudah dibohongi, yang pemahamannya minim.

Kalau kita lihat secara statistik, itu anak muda semua karena mereka sedang mencari jati diri, emosi masih tinggi. Cara menyasarnya, memanfaatkan teknologi informasi.

Makanya sekarang saya merekrut anak-anak muda yang punya banyak follower di 11 kota, kita didik untuk menyebarkan pesan damai dengan bahasa mereka. Selain itu, kita punya 32 Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme di 32 provinsi. Isinya ulama, tokoh masyarakat, pemuda, dan perempuan. Saya juga melibatkan mantan-mantan komandan jihad yang sudah sadar.

Sebenarnya apa yang seharusnya dilakukan masyarakat jika terjadi sebuah kasus pengeboman?

Seharusnya tidak men-share foto-foto korban dan menjauh dari lokasi TKP demi keamanan. Contohnya untuk kasus Kampung Melayu, bomnya kan dua kali. Bom pertama kecil dan orang-orang datang menonton, lalu bom kedua meledak dan menimbulkan korban yang cukup masif.

Sharing-sharing foto korban membahayakan dan ini yang diharapkan mereka. Sekarang kita lihat kasus yang di Paris, yang bom di pertunjukan opera, sama juga kondisi korbannya tapi tidak satu pun foto beredar, tsunami di Jepang juga tidak ada satu pun foto yang di-share. (M-1)

sumber: http://www.mediaindonesia.com/news/read/107382/terorisme-musuh-bersama-mari-lawan