Now reading
Radikalisasi Mantiqi I : Kompetisi Internal Dalam Tubuh Jamaah Islamiyah

Radikalisasi Mantiqi I : Kompetisi Internal Dalam Tubuh Jamaah Islamiyah

Adhe Nuansa Wibisono, S.IP

Kajian Terorisme dan Keamanan Internasional UI

Pusat Studi HAM UII

 

Jakarta, Sabtu 8 Desember 2012

Latar Belakang

Dinamika internal yang terjadi dalam tubuh Jamaah Islamiyah (JI), adanya faksi yang mendukung penggunaan violence act terhadap warga sipil (Mantiqi I), dan adanya faksi yang menolak penggunaan violence act terhadap warga sipil (Mantiqi II dan III). Beberapa aktor yang dianggap mendukung violence act dalam tubuh JI adalah : Hambali, Noordin M. Top, Dr. Azhari, Mukhlas, Imam Samudra yang berasal dari Mantiqi I. Beberapa aktor yang dianggap tidak menyepakati penggunaan violence act : Abu Fatih, Abu Thalut dan Nasir Abbas. Asumsi dasar yang digunakan adalah fatwa Usamah Bin Laden menjadi dasar radikalisasi bagi beberapa elemen dalam tubuh JI dikarenakan fatwa Usamah Bin Laden memberikan perspektif baru mengenai pelaksanaan jihad.
Fatwa ini kemudian mengajak semua elemen gerakan militan Islam di seluruh dunia untuk bergabung dalam suatu World Islamic Front untuk melawan dominasi global Amerika Serikat. Yang menjadi titik radikalisasi dalam penyeruan fatwa ini adalah pendapat Usamah Bin Laden yang memperbolehkan atau melegalkan serangan kepada warga sipil, khususnya warga sipil Amerika Serikat di daerah pendudukan dikarenakan invansi Amerika Serikat ke berbagai negara muslim juga menghasilkan korban warga sipil dalam jumlah besar, ini dilihat dalam kerangka aksi atau serangan balasan (retaliation).[1]

Polemik kemudian terjadi di dalam tubuh Jamaah Islamiyah, antara kelompok yang mendukung pelaksanaan dari fatwa jihad Usamah bin Laden tersebut dengan kelompok yang menolak pelaksanaan fatwa jihad tersebut. Mantiqi I di bawah pimpinan Ridhuan Ishamuddin atau biasa dikenal dengan Hambali mendukung adanya pelaksanaan ide tersebut Hambali kemudian mengaplikasikan seruan fatwa jihad tersebut dengan melakukan rancangan-rancangan pengeboman di berbagai daerah di Indonesia. Sikap ini kemudian tidak disetujui oleh para anggota JI lain, terutama para pimpinan di Mantiqi II dan Mantiqi III yang berpendapat bahwa tidak seharusnya serangan dilakukan kepada warga sipil, terlebih lagi masih terdapat prioritas yang harus diutamakan yaitu menghadapi tekanan represif dari rezim militer di Indonesia.

Melawan keberadaan musuh dekat (rezim otoriter lokal di Indonesia dan Filipina) lebih diutamakan daripada menyerang keberadaan musuh jauh (Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya). Apalagi dalam suatu pertemuan dewan markaziyah (pimpinan pusat) pada tahun 1999 Hambali pernah mengutarakan mengenai rencana serangkaian pengemboman di Indonesia, termasuk tempat ibadah, agar terjadinya suatu kondisi konflik nasional, sehingga aksi operasi militer dapat lebih mudah untuk dilakukan. Para pimpinan dan anggota senior JI yang lain menolak usulan Hambali tersebut, dengan alasan tidak diperbolehkannya menyerang dan merusak tempat ibadah, kemudian Islam juga melarang pembunuhan terhadap orang sipil secara sembarangan.

Mengapa terjadi perbedaan pendapat dalam tubuh JI antara para pimpinan dan anggota senior di Mantiqi I dengan para pimpinan dan anggota senior di Mantiqi II dan III. Apa yang menyebabkan cara pandang radikal mengenai bolehnya membunuh warga sipil kemudian berkembang diantara para anggota Mantiqi I seperti Hambali, Mukhlas, Imam Samudra, Amrozi, Dulmatin sehingga kemudian serangkain aksi pengeboman di Indonesia kemudian terjadi pada periode tahun 2000-2003. Apakah dikarenakan Hambali melakukan kontak langsung dengan Tanzhim Al Qaeda, terutama dengan Usamah Bin Laden?
Bin Laden yang melakukan seruan untuk melakukan serangan terhadap infrastruktur Amerika Serikat di seluruh dunia, melakukan serangan baik kepada pihak kombatan dan militer, kemudian warga sipil Amerika Serikat dan sekutunya sebagai bentuk aksi pembalasan (retaliation) yang dilakukan Amerika kepada negara-negara di Timur Tengah, terutama konteks invansi militer Afghanistan pada tahun 2001, yang kemudian memicu aksi pembalasan pada bom Bali tahun 2002. Makalah ini kemudian mencoba untuk menjelaskan satu pertanyaan : Mengapa Mantiqi I kemudian menjadi sangat radikal dan melakukan serangkaian pengeboman di Indonesia pada periode tahun 2000-2003?

Rumusan Masalah
Mengapa Mantiqi I kemudian menjadi sangat radikal dan mencoba melakukan serangkaian pengeboman di Indonesia pada tahun 2000-2003?

Kerangka Analisa
Untuk memberikan satu gambaran mengenai konflik internal dan radikalisasi kelompok yang terjadi dalam tubuh Jamaah Islamiyah, khususnya Mantiqi I, penulis meminjam pendekatan mengenai ‘radicalization’ yang ditawarkan oleh McCauley dan Moskalenko. Clark McCauley adalah salah seorang yang konsisten menekuni psikologi sosial dalam studi-studi terorisme. Clark McCauley dan Sophia Moskalenko telah mengemukakan beberapa poin kunci dari mekanisme ‘political radicalization’ yang didasarkan pada analisis psikologi. McCauley dan Moskalenko (2008) mendefinisikan ‘radicalization’ sebagai perubahan pada keyakinan, perasaan, atau perilaku dan meningkatnya dukungan kepada konflik antar-kelompok. Kemudian mereka menawarkan sejumlah mekanisme dimana kelompok atau organisasi dapat menjadi radikal[2], yaitu :

  • Radikalisasi kelompok dalam kompetisi akan basis dukungan yang sama. Suatu dinamika yang menjelaskan kompetisi intra-kelompok, dimana kelompok yang lebih radikal atau lebih ekstrem mungkin akan dianggap lebih berkomitmen dan loyal pada ideologi, yang memungkinkan mereka untuk menarik dukungan dari calon anggota dan pendukung yang potensial.
  • Radikalisasi kelompok dikarenakan adanya kompetisi intra-kelompok – fissioning. Suatu dinamika yang didasarkan pada pengamatan bahwa perbedaan pendapat menimbulkan ketegangan dan faksi yang kemudian menimbulkan kelompok ideologis. Kadangkala faksi ini berkembang menjadi kelompok sempalan yang berkompetisi dan bahkan berperang satu sama lainnya dalam eskalasi konflik yang semakin ekstrem.

Sejarah Jamaah Islamiyah
Jamaah Islamiyah (JI) adalah sebuah organisasi militan Islam di Asia Tenggara yang berisikan alumni-alumni pelatihan kamp militer di Afghanistan pada periode 1980-1990-an. Organisasi ini dipimpin oleh Abdullah Sungkar dan sahabatnya Abu Bakar Baasyir, dua orang pimpinan Darul Islam (DI) yang melakukan hijrah ke Malaysia pada tahun 1985 karena menghindari represi militer dan penangkapan oleh rezim Orde Baru di Indonesia. Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir kemudian menjadi perwakilan bagi Darul Islam di luar negeri yang memiliki fungsi untuk menjalin hubungan dengan gerakan Islam internasional. Selain itu juga Abdullah Sungkar ditugaskan untuk memperluas jaringan Darul Islam, khususnya dalam peningkatan kapasitas militer para anggota DI[3]
Sungkar juga ditugaskan dalam upaya melakukan penggalangan dana dari berbagai donatur dan gerakan islam internasional yang bersepakat untuk mendukung perjuangan DI di Indonesia. Abdullah Sungkar kemudian mengirim belasan hingga puluhan anggota Darul Islam di Malaysia sejak tahun 1986-1992 untuk mengikuti suatu pelatihan kamp militer di Afghanistan, tepatnya di kamp militer mujahidin Afghanistan (harby sohanjay) di wilayah perbatasan Pakistan-Afghanistan. Kamp pelatihan militer yang dimasuki oleh Abdullah Sungkar dan para anggota DI tersebut adalah kamp militer milik salah satu tanzhim Mujahidin Afghanistan, yaitu tanzhim Ittihad Al Islamy pimpinan Abdur Rabbur Rasul Sayyaf.[4]

Dengan adanya program pelatihan militer di Afghanistan ini maka posisi Abdullah Sungkar di Malaysia menjadi semakin kuat, mayoritas anggota Darul Islam yang ada di Malaysia dan kemudian dikirimkan menuju kamp militer di Afghanistan menunjukkan kecendrungan untuk berpihak kepada Abdullah Sungkar di Malaysia dibandingkan kepada Ajengan Masduki di Indonesia. Polemik dalam tubuh Darul Islam antara Abdullah Sungkar dan pengikutnya di Malaysia dengan Ajengan Masduki di Indonesia terjadi diakibatkan perbedaan cara pandang mengenai Islam yang murni (kaffah). Abdullah Sungkar menilai para elite pimpinan DI senior, termasuk Ajengan Masduki, telah mencampur-adukkan antara nilai-nilai sufisme, tradisionalisme Jawa, pada pemahaman keislaman yang dibangun pada anggota-anggota DI.

Perbedaan cara pandang ini pada awalnya sudah dimulai sebelum Abdullah Sungkar dan Abubakar Baasyir hijrah ke Malaysia dan masih tinggal dan menetap di Indonesia, kemudian semakin terlihat tergas ketika Abdullah Sungkar dan pengikutnya hijrah ke Malaysia dan kemudian melakukan kontak dengan para tokoh gerakan Islam yang beraliran Ikhwanul Muslimun dan Salafi Jihady di Afghanistan. Kritik yang ditegaskan oleh Abdullah Sungkar kepada para elite pimpinan DI adalah kritik mengenai pemurnian Islam dalam tubuh DI, bagaimana cara pandang sufisme, takhayul dan tradisionalisme Jawa seharusnya mulai dibersihkan dari nilai-nilai keislaman yang dibangun DI. Sepertinya perbedaan cara pandang yang krusial ini tidak dapat lagi membendung arus perpecahan, kemudian Abdullah Sungkar secara resmi membentuk Jemaah Islamiyah pada 1 Januari 1993.[5]

Segera setelah menyatakan diri keluar dari Darul Islam, Abdullah Sungkar bekerja menyusun jamaah baru di Malaysia. Ia dibantu oleh beberapa rekan-rekannya seperti Abu Bakar Baasyir, Thoriqudin alias Hamzah dan lain-lain. Jamaah yang ingin mereka bangun adalah jamaah yang memiliki tujuan iqomatuddin (menegakkan syariat Islam) lewat jalan jihad fisabilillah. Abdullah Sungkar cukup terpengaruh dengan keberadaan Jamaah Islamiyah di Mesir, terutama dengan cara-cara yang ditempuh oleh Jamaah Islamiyah Mesir dalam bergerak dengan menempuh cara-cara jihad, sehingga nama dari jamaah baru yang akan dibentuk ini mengambil inspirasi dari gerakan jihad asal Mesir tersebut, yaitu Jamaah Islamiyah.

Buku Mitsaq Amal Islami (Pedoman Amal Islam) karya para tokoh Jamaah Islamiyah Mesir ini yang kemudian dijadikan rujukan utama oleh Sungkar dan kawan-kawan dalam membentuk jamaah baru. Dimana sembilan prinsip perjuangan Jamaah Islamiyah Mesir kemudian diadopsi menjadi sepuluh prinsip perjuangan Jamaah Islamiyah yang didirikan Abdullah Sungkar. Pengadopsian prinsip-prinsip perjuangan dalam buku Mitsaq Amal Islami telah menjadikan jamaah baru yang dibentuk menjadi, “sama dan sebangun dengan Jamaah Islamiyah Mesir,” kata Abu Bakar Baasyir, tak hanya itu nama yang dipilihpun sama, Jamaah Islamiyah.[6]

Struktur Organisasi Jamaah Islamiyah
Jamaah Islamiyah kemudian juga membentuk perangkat-perangkat organisasi yang dibutuhkan dalam menjalankan roda organisasinya. Jamaah Islamiyah kemudian membentuk dewan pimpinan pusat atau disebut dengan majelis qiyadah markaziyah yang memiliki beberapa fungsi seperti administrasi keuangan, majelis fatwa, majelis syura, majelis hisbah, bidang dakwah sosial, bidang pendidikan, bidang akademi militer, bidang pelaksanaan aksi militer, bidang kehumasan dan bidang politik. Selain itu Jamaah Islamiyah juga memiliki struktur perwakilan di setiap wilayah-wilayah yang dinamakan dengan Mantiqiyah. Konsep Mantiqi ini yang kemudian membagi wilayah gerak dari Jamaah Islamiyah kepada tiga Mantiqi utama dan satu Mantiqi persiapan, kemudian di bawah Mantiqi ini kemudian terdapat struktur-struktur yang lebih kecil seperti Wakalah hingga Toifah. Untuk lebih dapat memahaminya maka kita akan melihat struktur organisasi Jamaah Islamiyah secara lebih mendetail pada bagan berikut di bawah ini.

  1. Amir Jamaah

Amir adalah pimpinan tertinggi dalam organisasi Jamaah Islamiyah yang mengatur gerakan organisasi. Amir Jamaah Islamiyah selama melaksanakan tugas sebagai Amir, dibantu oleh Majelis Syura, Majelis Fatwa, Majelis Hisbah dan Majelis Qiyadah Markaziyah.[7]

  1. Majelis Syura

Majelis Syura dilantik oleh Amir Jamaah Islamiyah dan kalangan anggota yang memiliki kepakaran dan berpendidikan tinggi. Majelis Syura inilah yang menyusun peraturan dan mengajukan rancangan perubahan Nizham Asasi. Dan Majelis Syura juga mengadakan evaluasi secara global tentang kepengurusan organisas Jamaah Islamiyah. Majelis Syura juga bertanggungjawab untuk mengangkat dan memberhentikan Amir Jamaah Islamiyah.[8]

  1. Majelis Fatwa

Majelis Fatwa dilantik oleh Amir Jamaah lslamiyah dari kalangan anggota yang berpendidikan tinggi tentang agama Islam dan dipastikan berpegang teguh dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Majelis Fatwa berfungsi menguatkan dan meluruskan keputusan-keputusan Amir Jamaah Islamiyah.[9]

  1. Majelis Hisbah

Majelis Hisbah dilantik oleh Amir Jamaah Islamiyah dari kalangan anggota yang berfungsi untuk melakukan pengawasan terhadap Amir Jamaah dan seluruh anggota Jamaah Islamiyah dalam hubungan dengan kepengurusan jamaah ataupun amal amal pribadi. Majelis Hisbah bisa memberikan usulan hukuman kepada Amir Jamaah bagi anggota yang telah melakukan pelanggaran.[10]

  1.   Majelis Qiyadah Markaziyah

Majelis Qiyadah Markaziyah adalah sekelompok orang yang menjadi pusat pengurusan Jamaah Islamiyah yaitu terdiri anggota. Jamaah Islamiyah yang menjadi para stafnya melaksanakan tugas sebagai pembantu Amir Jamaah bagi menjalankan bidang-bidang kegiatan tertentu. Tidak ada tempat yang tetap sebagai kantor pentadbiran Majelis Qiyadah Markaziyah, di mana saja letak posisi (keberadaan) Amir Jamaah maka di sekitar tempat itu boleh atau akan diadakan rapat Markaziy jika diperlukan.[11] Bidang-bidang tugas dalam Majelis Qiyadah Markaziyah meliputi :

  1. Pelaksana tugas Amir = pihak yang melaksanakan tugas Amir di ketika Amir Jamaah berhalangan.
  2. Aminul Am = Sekretaris Umum
  3. Khozin = Bendahara Umum
  4. Dakwah wal Irsyad = Bidang Dakwah, pembinaan rohani dan aqidah.
  5. Tarbiyah Rosmiyah = Bidang Pendidikan, mahad, madrasah, sekolah.
  6. Diklat = Bidang Pendidikan Akademi Militer.
  7. Askariy = Bidang Pelaksanaan Program kemiliteran, latihan dan pengiriman anggota ke wilayah konflik.
  8. I’lam wal A’laqot = Bidang Hubungan Masyarakat (Humas).
  9. Siyasiyah = Bidang Pengamat Politik.
  10. Mantiqiyah

Mantiqiyah berarti wilayah, yaitu wilayah gerakan dakwah Islam Jamaah Islamiyah, bukan bermaksud wilayah kekuasaan. Dan Mantiqi adalah pelaksana keputusan-keputusan yang telah digariskan oleh Markaziyah secara global. Pihak Mantiqi akan menerjemahkan dan melaksanakan keputusan-keputusan Markaziy menurut keadaan setempat di wilayah gerakan Mantiqi tersebut.[12]

  1. Wakalah

Wakalah berarti perwakilan, yaitu perwakilan Mantiqi di wilayah gerakan dakwah. Jumlah wakalah di bawah Mantiqi tidak terbatas tetapi di setiap pembentukan wakalah baru pada sesebuah mantiqi haruslah mendapatkan persetujuan dari Markaziy. Penentuan nama untuk wakalah adalah pilihan pihak Mantiqi yang juga harus mendapat persetujuan oleh pihak Markaziy.[13]

  1. Saroyah

Saroyah adalah nama bagi sebuah kesatuan seperti Batalion yang terdiri atas tiga Katibah.

  1. Katibah

Katibah adalah nama bagi sebuah kesatuan seperti Kompi yang terdiri atas tiga Kirdas.

  1. Kirdas

Kirdas adalah nama bagi sebuah kesatuan seperti Platon yang terdiri atas tiga Fiah.

  1. Fiah

Fiah adalah nama bagi sebuah kesatuan seperti Regu yang terdiri atas enam hingga sepuluh orang.

  1. Toifah

Toifah adalah nama bagi kesatuan/kelompok yang lebih kecil dari Regu, kelompok ini dibentuk jika diperlukan.
Klasifikasi Mantiqiyah
Pembentukan Wilayah Mantiqi Berdasarkan Fungsi Strategis Dalam rangka untuk membentuk suatu kerja yang konkrit dan saling menopang maka wilayah mantiqi yang sudah dibentuk diarahkan untuk melaksanakan tugas-tugas yang berfungsi secara strategis bagi Al-Jamaah Al-Islamiyah, yaitu:

  1. Mantiqi Ula (I) = Wilayah Pendukung Ekonomi
  2. Mantiqi Tsani (II) = Wilayah Garap Utama
  3. Mantiqi Tsalis (III) = Wilayah Pendukung Militer
  4. Mantiqi Ukhro = Wilayah Pendukung Ekonomi

Mantiqi Ula (I), Wilayah Pendukung Ekonomi
Mantiqi I (Ula)[14],yang berwilayah di Semenanjung Malaysia (Malaysia Barat) dan juga Singapura mempunyai potensi ekonomi yang lebih baik jika dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara. Peluang bisnis dan peluang pekerjaan yang lebih besar, menjadikan wilayah ini sangat makmur. Jamaah Islamiyah menetapkan fungsi strategis Mantiqi Ula sebagai sumber pendapatan dan pendanaan bagi kegiatan organisasi secara keseluruhan. Kemudian proses rekrutmen dan juga pendidikan bisa dioptimalkan di wilayah ini melalui dua institusi pendidikan JI yaitu madrasah Tarbiyah Luqmanul Hakiem di Johor Baru dan Sekolah Menengah Arab Daruk Anuar di Kota Baru.[15]

 

Terdapat 5 Wakalah di bawah Mantiqi Ula (II) yaitu :

  1. Wakalah Johor
  2. Wakalah Singapura
  3. Wakalah Perak
  4. Wakalah Negeri Sembilan
  5. Wakalah Selangor

Mantiqi Tsani (II), Wilayah Garap Utama
Wilayah Mantiqi Tsani (II)[16] terdiri atas Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Bali dan Nusa Tenggara. Mantiqi Tsani dikatakan sebagai Wilayah Garap Utama karena; wilayah Mantiqi II berpotensi sebagai dengan jumlah anggota paling banyak, paling cepat melakukan rekrutmen kepada masyarakat Muslim, cepat memperoleh simpati masyarakat Muslim, dan mudah mendapatkan dukungan masyarakat Muslim. Secara pendanaan Mantiqi Tsani (II) akan dibantu dari pihak Mantiqi Ula dan Mantiqi Ukhro, sedangkan secara sumber perekrutan dan pengembangan kemiliteran akan dapat dibantu dari Mantiqi Tsalis (Wilayah Pendukung Militer).[17]
Terdapat 9 wakalah di bawah Mantiqi Tsani (II) yaitu :

  1. Wakalah Sumbagut = Sumatera Bagian Utara
  2. Wakalah Pekan Baru
  3. Wakalah Lampung
  4. Wakalah Jabotabek = Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi
  5. Wakalah Jabar = Jawa Barat
  6. Wakalah Surakarta
  7. Wakalah Jateng = Jawa Tengah
  8. Wakalah Jatim = Jawa Timur
  9. Wakalah Nusra = Nusa Tenggara

Mantiqi Tsalis (III), Wilayah Pendukung Militer
Pada sekitar tahun 1997 Mantiqi Tsalis (III)[18] dibentuk. Wilayah gerakannya meliputi Sabah Malaysia, Kalimantan Timur (Indonesia), Sulawesi Utara (Indonesia), Sulawesi Tengah (Indonesia) dan Mindanao Filipina Selatan. Mantiqi Tsalis (III) diarahkan supaya mampu menjadi Wilayah Pendukung Askary bagi Jamaah Islamiyah. Maksud dari Wilayah Pendukung Askariy adalah wilayah yang dapat digunakan untuk Diklat Akademi Militer dan Kursus Kemiliteran jangka waktu pendek, dan juga sebagai wilayah yang mampu menjadi sumber kekuatan militer. Mantiqi Tsalis memiliki lima Wakalah, yaitu :

  1. Wakalah Salat (singkatan dari Sabah, Labuan dan Tarakan) yang kemudian dinamakan Wakalah Badar.
  2. Wakalah Supal (singkatan dari Sulawesi Utara dan Palu) yang kemudian dinamakan Wakalah Uhud.
  3. Wakalah Hudaybiyah (merujuk kepada Kamp Hudaybiyah pusat kegiatan di wilayah Mindanao).
  4. Wakalah Khaibar, meliputi daerah kota Poso dan sekitar.
  5. Wakalah Tabuk, meliputi daerah Pandajaya, Pendolo dan Palopo (Sulawesi Tengah dan Selatan)

 

Fatwa Jihad Usamah Bin Laden
Di saat JI di Indonesia sedang beradaptasi dengan perubahan situasi politik, diam-diam di wilayah Mantiqi I, yaitu Malaysia dan Singapura sedang terjadi perubahan orientasi perjuangan di kalangan aktivis JI disana. Perang melawan kafir harby, yaitu Amerika dan sekutunya menjadi wacana baru di kalangan mereka. Penyebabnya adalah fatwa Usamah bin Laden dan kawan-kawan yang dikeluarkan pada 23 Februari 1998, ‘Membunuh orang-orang Amerika dan sekutunya, baik sipil maupun militer, adalah kewajiban setiap muslim yang dapat dilakukan di negara manapun bila memungkinkan. Fatwa ini dikeluarkan atas nama World Islamic Front dan ditandantangani oleh Osama bin Laden, Ayman az Zawahiri (Jihad al-Islami, Mesir), Rifa’i Ahmad Taha (Jamaah Islamiyah, Mesir), Syaikh Mir Hamzah (sekretaris Jamiatul Ulama, Pakistan) dan Fazlur Rahman (tokoh gerakan Jihad, Bangladesh).[19]
Usamah bin Laden tak sekedar mengikrarkan perang, ia juga berusaha untuk mengajak kelompok-kelompok jihad di berbagai negara untuk bergabung dengan World Islamic Front. Ajakan ini juga disampaikan Usamah kepada Jamaah Islamiyah. Pada 1998, Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir diundang bertemu langsung dengan Usamah bin Laden di Afghanistan. Dalam pertemuan itu Usamah menerangkan bahwa kewajiban umat Islam yang terpenting setelah beriman kepada Allah adalah berjihad membebaskan jazirah Arab dari cengkraman musuh Allah, yaitu Amerika dan sekutunya. Lebih jauh ia mengatakan : Apabila jazirah Arab sebagai masdaru dinil islam (tempat berasalnya agama Islam) dan makarrul haramain (tanah suci) berhasil dibebaskan dari cengekraman kafir Amerika, baik tanah maupun kekayaannya, maka ini insha Allah dapat memperkuat perjuangan menegakkan dinul Islam dimanapun, di bumi Allah. Kesulitan dan kesusahan dalam menegakkan dinul Islam dimana-mana sekarang ini, kemungkinan besar diantara sebabnya adalah, jazirah Arab masih diiinjak oleh kaki-kaki kaum kuffar Amerika[20]

Pesan Bin Laden kepada Sungkar dan Baasyir jelas sekali mengajak JI mengubah orientasi jihad dari yang bersifat lokal (mendirikan syariat Islam di Indonesia) menjadi jihad alamy (internasional). Target operasinya adalah Amerika Serikat yang merupakan kekuatan yang mendominasi dunia saat ini. Pemerintahan-pemerintahan boneka negara-negara Islam yang disetir oleh Amerika Serikat, jika Amerika bisa runtuh maka secara otomatis akan terceraiberai pula boneka-boneka Amerika itu sehingga jihad menegakkan syariat Islam di negara-negara muslim akan lebih mudah.
Konflik Internal Dalam Tubuh Jamaah Islamiyah
Dalam kalangan internal JI terjadi pergolakan, terjadi pro-kontra akan fatwa Usamah bin Laden tersebut. Sebagian besar petinggi JI di Mantiqi I seperti Hambali, Ali Ghufron mendukung fatwa ini. Sebaliknya para pejabat Mantiqi II seperti Ibnu Thayib, Achmad Raihan dan Thariqun menolak fatwa ini yang kemudian menimbulkan perdebatan diantara dua kubu. Hambali dan kawan-kawan berpendapat bahwa jihad melawan Amerika untuk membebaskan jazirah Arab sekarang, menjadi prioritas utama. Mereka beralasan bahwa Amerika Serikat bukan sekedar menguasai tanah kaum muslimin tetapi menduduki Al Haramain, atau tanah suci kaum muslimin. Mengusir orang-orang kafir di jazirah arab harus disegerakan, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah yang saat menjelang wafat dan dalam keadan sakit keras masih memerintahkan agar umat Islam mengeluarkan kaum musyrikin dari jazirah arab. Karenanya jihad melawan Amerika tak bisa ditunda dengan alasan apapun.[21]
Argumen ini dibantah oleh Achmad Roihan dan para petinggi Mantiqi II yang menyatakan bahwa prioritas jihad JI adalah melawan pemerintah Indonesia yang dihakimi murtad. Alasannya penguasa murtad ini adalah musuh dekat. Para pimpinan Mantiqi II berpendapat bahwa memerangi musuh yang dekat lebih utama daripada memerangi musuh yang jauh, seperti Amerika. Para petinggi Mantiqi II juga membantah argumen yang mengatakan jihad defensif tak bisa ditunda. Bagaimana mungkin jihad bisa dilakukan kalau kekuatan yang belum mencukupi karena minimnya dana, minimnya personil yang mempunyai skill asykari yang memadai. Namun lemahnya kekuatan tidak membuat JI lantas berdiam diri sehingga ia harus melakukan persiapan jihad yang disebut dengan i’dad. Hukum i’dad sama dengan jihad, karena jihad tak bisa dilakukan tanpa i’dad, sebagaimana shalat tak bisa dilakukan tanpa wudhu. Mengatakan bahwa dalam jihad difa’i tak memerlukan i’dad lebih dahulu sama saja dengan mengatakan bahwa shalat tak perlu wudhu.[22]
Dalam perdebatan ini, para petinggi Mantiqi II juga merasa semakin mendapat dukungan ketika Syaikh Salamat Hasyim, Ketua MILF juga menyatakan ketidaksepakatannya dengan atas pelaksanaan fatwa Usamah bin Laden. Ketidaksepakatan ini disampaikan ketika berdiskusi dengan beberapa petinggi Mantiqi II, diantaranya adalah Ustadz Muhaimin Yahya, yang sengaja datang untuk menemui pimpinan MILF itu, untuk menanyakan pendapatnya mengenai fatwa tersebut. Dalam pertemuan yang berlangsung pada 1999, pimpinan tertinggi MILF itu berpendapa. ‘fatwa itu isinya baik, tetapi tidak mungkin dilaksanakan di Mindanao, karena situasi dan kondisinya tidak memungkinkan.’

Berbeda dengan era Abdullah Sungkar yang memiliki ketegasan dan wibawa diantara para anggotanya, Jamaah Islamiyah secara tidak terkendali terpecah menjadi dua kelompok bawah pimpinan Abu Bakar Baasyir. Faksi ‘moderat’ yang berada di bawah pimpinan Abu Fatih, Ketua Mantiqi II (meliputi Sumatera, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara), Mustopa alias Abu Tholut dan Nasir Abas, dua orang pimpinan Mantiqi III (Sabah, Kalimantan, Sulawesi dan Mindanao), dan Abdul Rahim Ayub, ketua Mantiqi IV (Australia). Faksi ‘radikal’ dipimpin oleh Hambali, Ketua Mantiqi I (Malaysia, Singapura), dan Zulkarnaen, kepala urusan militer Majelis Qiyadah Markaziyah. Dukungan ini memungkinkan Hambali untuk meradikalisasi organisasi melalui aksi-aksi militer dan koneksi pendanaan dengan jejaring Al Qaeda.[23]
Kontroversi soal aksi-aksi militer yang dilakukan oleh Mantiqi I sebenarnya tak hanya menyulut kontroversi di kalangan umat Islam saja, bahkan juga mencuat di kalangan JI sendiri. Menurut Ali Imron, bahkan mayoritas alumni Afghanistan dan alumni Moro pun tidak menyetujuinya. Salah satunya adalah karena aksi tersebut melakukan penyerangan terhadap tempat ibadah yang jelas dilarang oleh ajaran Islam. Seperti yang diakui oleh Hasyim Abbas, pelaku bom natal di Batam yang sempat mensurvei gereja-gereja di sana selama beberapa hari, menyatakan tidak menemukan senjata-senjata yang ditumpuk di gereja, bahkan juga tidak ada sikap-sikap yang menunjukkan permusuhan terhadap umat Islam. Namun meskipun informasi tersebut sudah disampaikan kepada Hambali, namun pimpinan Mantiqi I tetap bersikeras untuk melanjutkan rencana aksi pengeboman.[24]

Radikalisasi Mantiqi I : Rencana Operasi Pengeboman
Untuk memberikan kerangka terhadap apa yang terjadi dalam tubuh Jamaah Islamiyah, terutama apa yang dilakukan oleh Mantiqi I yang menyetujui seruan fatwa jihad dari Usamah bin Laden dan kemudian merencanakan serangkain pengeboman di Indonesia. Maka penulis akan meminjam dua poin dari asumsi McCauley dan Moskalenko (2008) mengenai ‘radicalization’ dalam tubuh kelompok. Dua pendekatan ini akan memberikan gambaran akan konflik yang terjadi dalam tubuh Jemaah Islamiyah dan langkah-langkah radikal yang kemudian dilakukan oleh Hambali dan kelompok Mantiqi I dalam berbagai aksi pengeboman yang ada di Indonesia. Dua poin pendekatannya yaitu :

  • Radikalisasi kelompok dalam kompetisi akan basis dukungan yang sama. Suatu dinamika yang menjelaskan kompetisi intra-kelompok, dimana kelompok yang lebih radikal atau lebih ekstrem mungkin akan dianggap lebih berkomitmen dan loyal pada ideologi, yang memungkinkan mereka untuk menarik dukungan dari calon anggota dan pendukung yang potensial.
  • Radikalisasi kelompok dikarenakan adanya kompetisi intra-kelompok – fissioning. Suatu dinamika yang didasarkan pada pengamatan bahwa perbedaan pendapat menimbulkan ketegangan dan faksi yang kemudian menimbulkan kelompok ideologis. Kadangkala faksi ini berkembang menjadi kelompok sempalan yang berkompetisi dan bahkan berperang satu sama lainnya dalam eskalasi konflik yang semakin ekstrem.

Hambali kemudian memainkan peran sebagai utusan pelaksana dari Jamaah Islamiyah, mengarahkan operasi dan pelatihan militer serta mengalokasikan dana melalui aliran uang Al Qaeda. Anggota Mantiqi I, Mukhlas alias Ali Ghufron, salah satu perencana pelaku pemboman Bali tahun 2002, dan Faiz Bafana, bendahara Al Qaeda, merupakan bagian penting dalam faksi radikal Hambali. Sedangkan pimpinan JI moderat pada Mantiqi lain yang cenderung untuk tidak menyepakati rencana pengeboman dibatasi pengaruhnya dalam kelompok yang dipimpin oleh Hambali. para pemimpin moderat terutama para pimpinan dan anggota senior dari Mantiqi II dan Mantiqi III diminimalisir keterlibatannya dalam pengambilan keputusan. Untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia untuk menjalankan rencana pengeboman, Hambali mengandalkan hampir sepenuhnya pada kelompok dan orang-orang yang dipimpinnya di Mantiqi I.[25]

Hambali juga memobilisasi tim inti Mantiqi I, termasuk di dalamnya adalah Amrozi, Ali Imron, Mubarok, Dulmatin, Abdul Ghoni, Azhari Husin, Umar Patek, dan Idris, semua yang kemudian akan membentuk kelompok inti dari bom Bali 2002. Kelompok minoritas radikal ini hanya mewakili sebagian kecil dari organisasi JI keseluruhan (yang mungkin hanya sekitar 10% dari seluruh organisasi), tetapi bertanggung jawab atas semua tindakan kekerasan tersebut. Sebelum bom Bali 2002, Hambali tidak ragu-ragu untuk menggunakan anggota dari struktur Mantiqi lainnya, seringkali tanpa memberitahu pimpinan Mantiqi setempat. Pada tahun 2000 Hambali “meminjam” Fathurrahman Al-Ghozi, seorang anggota Mantiqi III di bawah pimpinan Mustopa, untuk melakukan pengeboman kedutaaan besar Filipina. Hambali secara resmi bertanggung jawab atas pengeboman di wilayah Malaysia dan Singapura. Kemudian juga Hambali yang merancang pengeboman malam Natal dan pengeboman gereja lainnya di Indonesia, yang merupakan wilayah gerak dari Abu Fatih, kepala Mantiqi II.[26]

Selama periode ini, Hambali mengabaikan pendapat mayoritas anggota Jamaah Islamiyah lainnya yang menolak rencana pengeboman dan kemudian menyerukan kepada tim inti lapangan di Mantiqi I untuk melakukan pengeboman, termasuk Sufaat, Imam Samudra dan Yazid (komandan lapangan untuk pengeboman malam Natal tahun 2000 dan pengeboman gereja), Mukhlas Ali Ghufron (pengeboman malam Natal, pengeboman Kedutaan Besar Fillipina, dan perencanaan bom Singapura), Faiz Bafana (pengeboman malam Natal, pengeboman kedutaan besar Filipina, pengeboman gereja, rencana pengeboman Singapura), Fathurrahman al-Ghozi (pengeboman kedutaan besar Filipina, rencana pengeboman Singapura), dan Edi Setyono (pengeboman malam Natal, pengeboman kedutaan besar Filipina, pengeboman gereja).[27]

Kelompok militan Hambali bertanggung jawab atas semua serangan pengeboman dari tahun 2000-2003. Pada tahun 2000, Kelompok Hambali bertanggung jawab untuk beberapa serangan, yaitu : pengeboman Gereja Medan, pengeboman Jalan Kenanga, pengeboman kedutaan besar, dan pengeboman malam natal. Hampir semua serangan ditujukan kepada pengeboman gereja, yang merupakan bagian dari strategi Hambali untuk memicu kekerasan antara umat Kristen dan Muslim dalam upaya mempercepat eskalasi konflik dan radikalisme untuk perebutan kekuasaan dan untuk mempercepat pelaksanaan Islam hukum di Indonesia. Pemboman kedutaan besar Filipina (yang menggunakan bom mobil untuk menyerang Duta Besar Filipina ketika ia memasuki kompleks kediamannya) dan pemboman Hari Jose Rizal (kerjasama yang dilakukan antara JI dan MILF yang mengakibatkan lima ledakan simultan di Manila pada tanggal 30 Desember 2000) diarahkan oleh Hambali sebagai balas dendam atas keputusan pemerintah Filipina untuk menyerbu pelatihan JI dan MILF kamp militer Abu Bakar dan kamp militer Hudaibiyah.[28]

Kesimpulan
Radikalisasi yang terjadi pada Mantiqi I dalam organisasi Jamaah Islamiyah terjadi dikarenakan faktor pengaruh dari faktor eksternal terutama fatwa jihad Usamah Bin Laden, selain itu juga Hambali sebagai pimpinan Mantiqi I, mendapatkan sokongan dana dan personel dari jaringan Usamah Bin Laden sehingga Hambali melaksanakan perencanaan rangkaian pengeboman di Indonesia dan Asia Tenggara pada tahun 2000-2003. Dengan melakukan aksi pengeboman ini, Hambali dan para anggota Mantiqi I lainnya, akan dianggap oleh para anggota junior Jamaah Islamiyah sebagai kelompok yang lebih radikal, lebih militan dan lebih loyal pada ideologi yang diyakini selama ini. Hambali juga memiliki tujuan strategis untuk meningkatkan eskalasi konflik di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara melalui berbagai aksi pengeboman sehingga memudahkan langkah untuk melakukan perebutan kekuasaan melalui berbagai kondisi chaos yang diakibatkan oleh berbagai aksi pengeboman.

Dengan melakukan aksi pengeboman ini Hambali berharap mendapatkan simpati dari para anggota Jamaah Islamiyah, karena dianggap telah menerapkan ideologi jihad secara militan, ini dalam rangka untuk menarik basis dukungan yang sama, yaitu para anggota JI, bersaing dengan para pimpinan JI di Mantiqi II dan III yang lebih moderat, yang menolak rencana pengeboman ini. Tetapi hasil akhir dari berbagai rencana pengeboman ini adalah menghancurkan organisasi JI secara keseluruhan, dimana para pimpinan dan anggota Mantiqi I didakwa sebagai pelaku utama berbagai serangan pengeboman, dan kemudian menyeret JI secara organisasi dan para pimpinan JI di Mantiqi II dan III, yang tidak menyepakati rencana pengeboman, juga terseret sebagai terduga para pelaku terorisme. Radikalisasi Mantiqi I yang berdampak pada serangkaian aksi pengeboman, akhirnya menyeret Jamaah Islamiyah sebagai organisasi yang dianggap paling bertanggungjawab terhadap aksi terorisme di Indonesia.

Referensi :

Abas, Nasir, ‘Membongkar Jamaah Islamiyah : Pengakuan Mantan Anggota JI’, (Jakarta, Grafindo Khazanah Ilmu : 2005)

Abuza, Zachary ‘The War On Terrorism In Southeast Asia, Jurnal Strategic Asia 2003-2004

Blanchard, Christopher M. ‘Al Qaeda: Statements and Evolving Ideology’, Congressional Research Service Report for Congress, 2005

Borum, Randy, ‘Radicalization Into Violent Extremism I : A Review Of Social Science Theories’, Journal of Strategic Security Volume 4 Issue 4, (South Florida : Henley Putnarn University Press, 2011)

LaFree, Gary, etc, ‘Community-Level Indicators Of Radicalization: A Data And Methods Task Force’, National Consortium for the Study of Terrorism and Responses to Terrorism, U.S. Department of Homeland Security Center of Excellence, (Maryland : University Of Maryland : 2011)

Mandel, David R., ‘Radicalization: What Does It Mean?’, dalam T. Pick & A. Speckhard (Eds.), ‘Indigenous Terrorism: Understanding And Addressing The Root Causes Of Radicalization Among Groups With An Immigrant Heritage In Europe’, (Armsterdam : IOS Press, 2008)

Magouirk, Justin ‘Connecting Terrorist Networks, Studies in Conflict & Terrorism, 31:1–16, 2008, (Michigan, Routledge : 2008)

International Crisis Group, ‘Daur Ulang Militan Indonesia : Darul Islam dan Bom Kedutaan Australia’, Februari 2005

Solahudin, ‘NII Sampai JI : Salafy Jihadisme di Indonesia’, (Jakarta, Komunitas Bambu :2011)

[1] Christopher M. Blanchard, ‘Al Qaeda: Statements and Evolving Ideology’, Congressional Research Service Report for Congress, 2005, hal 3

[2] Randy Borum, ‘Radicalization Into Violent Extremism I : A Review Of Social Science Theories’, Journal of Strategic Security Volume 4 Issue 4, (South Florida : Henley Putnarn University Press, 2011), Hal 16

[3] Menurut data International Crisis Group (ICG), posisi yang diemban oleh Abdullah Sungkar di NII pada masa kepemimpinan Ajengan Masduki adalah ‘Kuasa Usaha Komandemen Tertinggi’ yang memiliki fungsi memperluas jaringan dan meningkatkan kapasitas militer para anggota DI melalui kamp-kamp pelatihan militer yang berada di Afghanistan. Lihat International Crisis Group, ‘Daur Ulang Militan Indonesia : Darul Islam dan Bom Kedutaan Australia’, Februari 2005, hal 23

[4] Nasir Abas, ‘Membongkar Jamaah Islamiyah : Pengakuan Mantan Anggota JI’, (Jakarta, Grafindo Khazanah Ilmu : 2005), Hal 26

[5] International Crisis Group, ‘Daur Ulang Militan Indonesia : Darul Islam dan Bom Kedutaan Australia’, Februari 2005, hal 23

[6] Solahudin, ‘NII Sampai JI : Salafy Jihadisme di Indonesia’, (Jakarta: Komunitas Bambu, Depok, Mei 2011), hal 235

[7] Nasir Abas, ‘Membongkar Jamaah Islamiyah : Pengakuan Mantan Anggota JI’, (Jakarta, Grafindo Khazanah Ilmu : 2005), Hal 66

[8] Nasir Abas, ‘Membongkar Jamaah Islamiyah : Pengakuan Mantan Anggota JI’, (Jakarta, Grafindo Khazanah Ilmu : 2005), Hal 67

[9] Nasir Abas, ‘Membongkar Jamaah Islamiyah : Pengakuan Mantan Anggota JI’, (Jakarta, Grafindo Khazanah Ilmu : 2005), Hal 68

[10] Nasir Abas, ‘Membongkar Jamaah Islamiyah : Pengakuan Mantan Anggota JI’, (Jakarta, Grafindo Khazanah Ilmu : 2005), Hal 70

[11] Nasir Abas, ‘Membongkar Jamaah Islamiyah : Pengakuan Mantan Anggota JI’, (Jakarta, Grafindo Khazanah Ilmu : 2005), Hal 68

[12] Nasir Abas, ‘Membongkar Jamaah Islamiyah : Pengakuan Mantan Anggota JI’, (Jakarta, Grafindo Khazanah Ilmu : 2005), Hal 69

[13] Nasir Abas, ‘Membongkar Jamaah Islamiyah : Pengakuan Mantan Anggota Ji’, (Jakarta, Grafindo Khazanah Ilmu : 2005), Hal 70

[14] Mantiqi I atau juga disebut dengan Mantiqi Ula (Wilayah Satu) adalah salah satu bagian dari struktur organisasi Jamaah Islamiyah yang wilayah geraknya meliputi Johor, Perak, Negeri Sembilan, Selangor dan Singapura. Mantiqi I ini dimpimpin oleh Hambali yang mendukung seruan fatwa jihad Usamah bin Laden, dan juga didukung oleh para anggotanya dalam Mantiqi ini termasuk Mukhlas Ali Ghufron, Imam Samudra, Amrozi, Ali Imron, Azhari bin Husin, Noordin M. Top, Umar Patek, Dulmatin. Lihat Justin Magouirk, ‘Connecting Terrorist Networks, Studies in Conflict & Terrorism, 31:1–16, 2008, (Michigan, Routledge : 2008), hal 8

[15] Zachary Abuza, ‘The War On Terrorism In Southeast Asia, Jurnal Strategic Asia 2003-2004, Hal 333

[16] Mantiqi II (Mantiqi Tsani) dan Mantiqi III (Mantiqi Tsalis) adalah bagian dari struktur organisasi Jamaah Islamiyah yang wilayah geraknya untuk Mantiqi II meliputi Sumatera, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Sedangkan untuk Mantiqi III yang wilayah geraknya meliputi Sabah Malaysia, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Mindanao Filipina Selatan. Para pimpinan di Mantiqi II dan III ini cenderung tidak sepakat dengan inisatif pengeboman yang dilakukan di Indonesia, apalagi itu termasuk wilayah garapan Mantiqi II dan III dan bukan wewenang gerak dari Mantiqi I. Beberapa tokoh dari Mantiqi II dan III ini adalah Abu Fatih, Musthopa alias Abu Thalut dan Nasir Abas, lihat Lihat Justin Magouirk, Connecting Terrorist Networks, Studies in Conflict & Terrorism, 31:1–16, 2008, (Michigan, Routledge : 2008), hal 8

[17] Nasir Abas, ‘Membongkar Jamaah Islamiyah : Pengakuan Mantan Anggota Ji’, (Jakarta, Grafindo Khazanah Ilmu : 2005), Hal 75

[18] Mantiqi II (Mantiqi Tsani) dan Mantiqi III (Mantiqi Tsalis) adalah bagian dari struktur organisasi Jamaah Islamiyah yang wilayah geraknya untuk Mantiqi II meliputi Sumatera, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Sedangkan untuk Mantiqi III yang wilayah geraknya meliputi Sabah Malaysia, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Mindanao Filipina Selatan. Para pimpinan di Mantiqi II dan III ini cenderung tidak sepakat dengan inisatif pengeboman yang dilakukan di Indonesia, apalagi itu termasuk wilayah garapan Mantiqi II dan III dan bukan wewenang gerak dari Mantiqi I. Beberapa tokoh dari Mantiqi II dan III ini adalah Abu Fatih, Musthopa alias Abu Thalut dan Nasir Abas, lihat Lihat Justin Magouirk, Connecting Terrorist Networks, Studies in Conflict & Terrorism, 31:1–16, 2008, (Michigan, Routledge : 2008), hal 8

[19] Solahudin, ‘NII Sampai JI : Salafy Jihadisme di Indonesia’, (Jakarta: Komunitas Bambu, Depok, Mei 2011), hal 251

[20] Solahudin, ‘NII Sampai JI : Salafy Jihadisme di Indonesia’, (Jakarta: Komunitas Bambu, Depok, Mei 2011), hal 251

[21] Solahudin, ‘NII Sampai JI : Salafy Jihadisme di Indonesia’, (Jakarta: Komunitas Bambu, Depok, Mei 2011), hal 256

[22] Solahudin, ‘NII Sampai JI : Salafy Jihadisme di Indonesia’, (Jakarta: Komunitas Bambu, Depok, Mei 2011), hal 257

[23] Justin Magouirk, ‘Connecting Terrorist Networks’, Studies in Conflict & Terrorism, 31:1–16, 2008, (Michigan, Routledge : 2008), hal 5

[24] Solahudin, ‘NII Sampai JI : Salafy Jihadisme di Indonesia’, (Jakarta: Komunitas Bambu, Depok, Mei 2011), hal 257

[25] Justin Magouirk, ‘Connecting Terrorist Networks’, Studies in Conflict & Terrorism, 31:1–16, 2008, (Michigan, Routledge : 2008), hal 6

[26] Justin Magouirk, ‘Connecting Terrorist Networks’, Studies in Conflict & Terrorism, 31:1–16, 2008, (Michigan, Routledge : 2008), hal 10

[27] Justin Magouirk, ‘Connecting Terrorist Networks’, Studies in Conflict & Terrorism, 31:1–16, 2008, (Michigan, Routledge : 2008), hal 8

[28] Justin Magouirk, ‘Connecting Terrorist Networks’, Studies in Conflict & Terrorism, 31:1–16, 2008, (Michigan, Routledge : 2008), hal 5