Now reading
Jejak Toleransi di Museum Cheng-Ho

Jejak Toleransi di Museum Cheng-Ho

JAKARTA, KOMPAS.com–Masih banyak warga Jakarta belum tahu bahwa kampung budaya pacinan di kompleks Taman Kebudayaan Indonesia-Tinghoa, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), kini menyimpan begitu banyak kisah heroik pahlawan dalam perjuangan melawan penjajah kolonial Belanda.

Sesuai dengan sebutannya sebagai taman budaya Tionghoa, maka pengunjung cepat menangkap kesan bahwa kawasan tersebut lebih menonjolkan kultur negeri Tirai Bambu. Apalagi di dalam kompleks tersebut berdiri kokoh patung Cheng Ho dan guru Khonghucu yang bagi etnis Tionghoa di Tanah Air tidak asing lagi.

Suasana kultur etnis Tionghoa semakin terasa kental tatkala pengunjung menyaksikan taman 12 sio dan bangunan-bangunan indah dengan tulisan huruf kanji dan nama donaturnya.

Kendati demikian, bangunan-bangunan yang merepresentasikan sebagai kawasan Tiongkok atau pacinan itu akan menyadarkan pengunjung bahwa mereka itu masih berada di Indonesia setelah menyaksikan patung burung Garuda dengan sayap lebar di tengah-tengah taman budaya tersebut.

Pengunjung sadar, bahwa bangunan indah di sekeliling itu hadir di Tanah Air sebagai perwujudan negeri ini yang majemuk, diikat dalam wadah Bhinneka Tunggal Ika dalam Negara Kesatuan RI.

Seperti juga bangunan lainnya yang ditempeli nama donatur atau sebagai penyumbang berdirinya bangunan antik khas Tiongkok tersebut, di bawah patung burung Garuda ditulis nama Sri Sultan Hamengkubuwono X. Di situ tertulis, bangunan ini sumbangan Sri Sultan Hamengkubuowono X.

Sebagai wujud ikatan persaudaraan, di Taman Budaya Tionghoa-Indonesia itu dilengkapi air mancur dengan bola dunia seberat dua ton. Ini adalah satu-satunya air mancur istimewa di TMII.

Bola dunia yang dapat berputar tatkala air mancur aktif, ditulis kalimat “Kita Semua Bersaudara” dengan huruf kanji, berbahasa Inggris dan Indonesia. Air mancur aktif ketika perkumpulan senam Tera melakukan kegiatannya di taman tersebut. Suasana pun menjadi tambah indah, segar dan damai sesuai dengan harapan pengelola taman tersebut.

“Kita aktifkan, agar suasana tambah segar,” ungkap Teddy Yusuf, seorang purnawirawan beretnis Tionghoa yang sehari-hari mengurusi taman tersebut. Ia juga menjadi pengurus dan motivator bagi peserta senam Tera untuk menjaga kebugaran tubuh para anggotanya.

Kehadiran Taman Budaya Tionghoa-Indonesia kini makin terasa istimewa. Pasalnya, setiap saat, siapa pun yang berkunjung ke kawasan tersebut selain dapat menikmati keindahan kompleks taman budaya dengan segala keistimewaan arsitekturnya, juga dapat menyaksikan jejak pahlawan dari para pejuang etnis Tionghoa bersama pejuang lainnya di berbagai daerah dalam membela negara kesatuan Republik Indonesia.

Museum Cheng Ho, yang dibangun beberapa tahun lalu, sangat membantu generasi muda untuk memahami akulturasi budaya etnis Tionghoa dan berbagai etnis. Adanya koleksi motif batik peranakan di Museum Cheng Ho merupakan satu fakta bahwa etnis ini sudah sedemikian kuat mewarnai budaya Indonesia.

Termasuk pembauran (asimulasi) etnis Tionghoa dengan berbagai suku di Nusantara. Juga perjuangan pahlawan dari kalangan etnis Tionghoa bersama etnis lainnya di berbagai daerah di Indonesia.

Taman ini memang dibangun dengan konsep bernuansa khas etnik Tionghoa. Pada 2004, melalui Yayasan Harapan Kita diserahkan lahan seluas 4,5 hektare kepada perkumpulan etnis Tionghoa Indonesia untuk membangun Taman Budaya Tionghoa di TMII. Kemudian pada 8 November 2006 dimulailah pembangunan Taman ini sekaligus peresmian pintu gerbang oleh ketua Yayasan Harapan Kita, H.M Soeharto.

Pengunjung akan menyaksikan berbagai keistimewaan di perkampungan kecil Tionghoa (pecinan) berupa pernak-pernik “kampong pecinan”, termasuk warna merah dan kuning emas yang mendominasi hampir semua kawasan ini berikut bangunan-bangunan berbentuk simetris.

Selain itu, di taman tersebut terdapat juga fasilitas lain untuk menambah kesan penggambaran secara lengkap kebudayaan Tionghoa-Indonesia, seperti gazebo danau, sepasang tiang naga, patung Dewi Bulan, patung Kwan Kong, jembatan batu Sampek Eng Tay, Museum Laksamana Ceng Ho dan Hakka.

Dengan adanya Taman Budaya Tionghoa di TMII diharapkan akan menjadi daya tarik sekaligus menjadi salah satu wahana yang dapat memperlihatkan kepada masyarakat luas bahwa suku Tionghoa termasuk sejarah dan budayanya, merupakan bagian integral dalam sejarah dan budaya bangsa Indonesia.

Pahlawan

Pembangunan taman ini memang dimaksudkan untuk memamerkan artefak, foto-foto, arsitektur, taman, dan lain-lain yang berkaitan dengan eksistensi etnis Tionghoa di kepulauan Nusantara ini. Tetapi ternyata bukan itu saja, juga para pejuang dari kalangan etnis ini juga diungkap ketika bersama pasukan Indonesia membela NKRI, seperti Jhon Lie.

Sehingga melalui Taman Budaya Tionghoa ini juga dapat tergambar toleransi dan kerukunan antaretnis, antarumat beragama di Indonesia. Termasuk di dalamnya akulturasi budaya yang sudah mengakar di Tanah Air ini.

Terkait dengan perjuangan etnis Tionghoa itu, di Museum Cheng Ho digambarkan perjuangan Laksamana Muda TNI (Purn.) John Lie Tjeng Tjoan, atau yang lebih dikenal sebagai Jahja Daniel Dharma (lahir di Manado,Sulawesi Utara, 9 Maret 1911 meninggal di Jakarta, 27 Agustus 1988 pada umur 77 tahun) adalah salah seorang perwira tinggi di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut dari etnis Tionghoa dan Pahlawan Nasional Indonesia.

Dari beberapa catatan sejarah, Laksamana Muda TNI (Purn) John Lie atau Jahja Daniel Dharma merupakan seorang perwira tinggi Angkatan laut yang sarat pengalaman dan juga jasa. Ia mendapat gelar Bintang Mahaputera Utama dari mantan presiden Soeharto pada 1995 dan Bintang Mahaputera Adiprana serta Pahlawan Nasional oleh Presiden SBY pada 2009.

Para tokoh pejuang beretnis Tionghoa, di beberapa laman tercatat antara lain: Djiaw Kie Song. Peristiwa Rengas dengklok mungkin tak akan pernah terjadi tanpa adanya campur tangun Djiaw Kie Song.

Ia rela membiarkan rumahnya dijadikan tempat ¿penyanderaan¿ Soekarno dan Hatta oleh para tokoh pemuda di antaranya Sukarni, Chaerul Saleh, dan Adam Malik pada Kamis, 16 Agustus 1945.

Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur pernah menyatakan bahwa ia mempunyai darah Tionghoa mengalir dalam nadinya.

Dengan terbuka ia mengakui bahwa ia masih memiliki garis keturunan dari Tan Kim Han yang menikahi Tan A Lok yang merupakan saudara Raden Patah (Tan Eng Hwa) yang mendirikan Kesultanan Demak.

Bersama beberapa tokoh keturunan Tionghoa lain seperti sejarawan Ong Hok Ham dan pendiri Harian Kompas, P.K. Ojong, Lauw Chuan Tho turut terlibat dalam pencetusan Piagam Asimilasi yang menganjurkan agar warga keturunan Tionghoa sepenuhnya berasimilasi dengan masyarakat Indonsia.

Lauw Chuan Tho memeluk Islam pada 1979 dan mulai dikenal sebagai Junus Jahja. Ia menjadi penyokong berdirinya Masjid Lautze di Jakarta serta Yayasan Haji Karim Oei. Junus Jahja yang pernah dilantik menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung pernah dianugerahi gelar Bintang Mahaputra.

Siauw Giok Tjhan yang lahir di Surabaya pada 1914 merupakan salah seorang tokoh pejuang yang berhasil membawa Indonesa keluar dari belenggu penjajahan Belanda.

Siauw Giok Tjhan yang juga ahli bela diri kung fu ini tercatat pernah menjadi Ketum Baperki, anggota BP KNIP, Menteri Negara, anggota parlemen RIS dan DPR, serta anggota DPRGR/MPRS juga anggota DPA.

Lie Eng Hok dikenal luas sebagai tokoh Perintis Kemerdekaan Indonesia pada masa pergerakan melawan penjajah Belanda. Ia adalah salah satu tokoh yang memimpin pemberontakan 1926 di Banten.

Waktu itu, bersama rekan-rekan seperjuangannya ia merusak jalan, rel kereta api, jembatan, rumah-rumah dan kantor-kantor Belanda untuk menunjukkan perlawanan terhadap pemerintahan kolonial yang menindas masyarakat.

Soe Hok Gie merupakan tokoh keturunan Tionghoa termuda dalam daftar ini. Walaupun meninggal pada usia muda (26 tahun), ia mewariskan idealisme kokoh khususnya kepada para mahasiswa Indonesia yang rajin berdemo di jalanan untuk menentang pemerintahan yang tidak mementingkan kepentingan rakyat.

Soe Hok Gie merupakan pemuda cerdas yang berani melontarkan kritik bahkan terhadap gurunya sendiri sewaktu ia mendapati gurunya bertindak otoriter.

sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2015/11/10/20195061/Jejak.Toleransi.di.Museum.Cheng-Ho